Cerita Tuan Kucing

Kucing yang mencuri perhatianku di masa putih abu kini muncul kembali dalam hidupku. Aku memanggilnya tuan kucing. Dia bukan sembarang kucing, bukan pula kucing yang biasa kalian lihat di jalanan atau toko hewan peliharaan.

Dia manusia sepertiku, sepertimu. Akan tetapi, dia memiliki aura seperti seekor kucing! Sungguh. Seperti ada tarikan magnet yang unik, sehingga mata ini selalu tertuju padanya. Perasaan hangat muncul ketika berada di dekatnya. Raga ini seakan ingin terus melindunginya walaupun dia tampak lebih kuat dariku. Tingkah polos dan ekspresinya menumbuhkan rasa cinta. Rasa yang mewarnai dan menyegarkan masa remajaku.

Di tahun kedua SMA, aku berpapasan dengannya di lorong sekolah. Aku melihatnya tengah mengobrol dengan teman disampingnya. Aku ingat, di hari itu langit tampak begitu cerah. Angin lembut pun menerbangkan dedaunan di sekitar momen kami tersebut. Aku yakin bahwa sesuatu yang luar biasa akan terjadi.

 "Dia orang yang akan masuk ke dalam hidupku, suatu hari nanti, entah kapan." secara spontan aku mengucapkannya dalam hati. Walaupun kucing itu berlalu tanpa melihat ke arahku.

***

Apa Kamu Masih Mengingatku?

Tahun Pertama Bekerja. Bulan ke Tujuh.

Foto wisudaku tersimpan rapi di atas meja kerja. Aku memandangi potret wajahku yang tersenyum mengangkat sebuah map berisi ijazah. Aku menyadari bahwa usiaku kini sudah bukan belasan lagi. Sebagian kepahitan hidup sudah aku cicipi satu per satu. Aku bukanlah gadis polos yang menangis saat menyadari hilangnya seseorang dari kehidupanku. Hatiku kini sekuat baja, bahkan aku bisa menahan luka yang menganga lebar sekalipun. Aku menjadi pribadi yang tidak percaya akan indahnya cinta. 

Pada saat aku berkuliah, pengalaman terkait cinta aku jadikan sebagai permainan hati belaka. Beberapa hati harus rela jatuh dan terpatahkan begitu saja. Aku sengaja melakukan itu sebagai kepuasan batin yang aku sendiri kadang tak mengerti arah tujuannya. Rasanya sungguh jahat ketika berpura-pura mencintai seseorang karena tak mampu mencintai seseorang yang lain. Aku hanya ingin membuat luka dalam cinta ini semakin bertambah sakit dan semakin sakit agar aku tak menginginkannya lagi.

Hari menjelang sore, saatnya berkemas dan beristirahat di rumah. Ku rapikan meja dan berpamitan kepada beberapa rekan kerjaku. Terlihat vending machine di depan mini market, rasa haus pun tak terhindarkan. Menikmati sekaleng kopi di sore hari sepertinya pilihan yang cukup bagus. 

Tiba-tiba dari ujung jalan tuan kucing menghampiriku dan mulai mengeong. Hei!! Untaian kenangan mulai mengikat hati dan pikiranku. Aku diajak kembali berwisata menuju masa lalu. Menyelami setiap kesalahan yang aku dan dia lakukan sampai menyisakan sebuah perpisahan yang tak beralasan. Akankah untaian yang sempat merenggang dapat kembali terikat kuat di masa depan? atau pertemuan ini hanya akan memutus untaian sampai rapuh menjadi debu?

                                                                            ***

Tahun penuh kejutan. 

Tahun Kedua SMA. Bulan ke Empat.

Semenjak berpapasan dengannya di lorong sekolah, belum ada tanda-tanda istimewa yang berarti. Aku belum pernah melihatnya lagi. Ternyata sangat sulit menemukan kakak kelas yang telah dinyatakan lulus. Mereka hanya akan datang ke sekolah sesekali sambil menunggu hari perpisahan tiba. Namun, aku masih tidak dapat melupakan wajah sampingnya di hari itu. 

Selama dua tahun bersekolah di SMA ini, hari itu merupakan momen pertama aku bisa melihatnya dengan jelas. Sebelumnya aku hanya mengetahui bahwa dia adalah anak seusiaku yang berhasil memasuki kelas istimewa. Kelas istimewa adalah kelas yang hanya dihuni oleh orang-orang jenius karena mereka dapat lulus SMA selama dua tahun saja. Kelasnya pun letaknya sangat jauh dengan kelas untuk siswa biasa sepertiku. 

Aku bangga dengannya yang telah berjuang keras. Aku ingin bisa berteman dengannya agar dia dapat memberikanku semangat dan tips agar menjadi juara kelas. Apalagi aku mempunyai mimpi yang besar untuk masuk ke salah satu universitas favorit. Kedengarannya mungkin mustahil, tapi aku masih berharap hal itu dapat terwujud walaupun dengan setitik harapan.


 (source: pinterest)

 Kenapa aku harus menyukai seseorang yang akan sulit untuk ku temui?

Pertemuan Tak Terduga. 

Tahun Kedua SMA. Bulan ke Enam.

Cuaca di hari Minggu ini sangat mendukung rencanaku untuk datang ke festival kebudayaan. Hari ini aku mendatangi festival budaya Jepang di sebuah gedung yang begitu luas. Gedung tersebut terletak di Ibu kota provinsi, lokasinya sedikit agak jauh dari kota kelahiranku. Aku begitu mencintai kota ini dan ingin berada di sini selamanya. Selain penataan kotanya memanjakan mata, kota ini menyimpan kenangan masa kecil yang tak terlupakan.

Aku merasa ada seseorang yang tengah memperhatikanku di depan sana. Kerumunan orang-orang di sekitarku tak bisa menutupi tarikan magnet yang begitu kuat. Tarikan dari seseorang yang sudah tidak asing lagi di mataku. Takdir memang lucu. Begitu pikirku. Siapa sangka?! Tuan kucing berdiri dua puluh langkah di depanku membawa sebuah kamera. Aku bertanya-tanya dalam hati kenapa dia berada di sini?!

 (source: pinterest)

"Ayo, Azumi. Kita lihat booth sebelah."

"Oh, iya, sebentar"

(source: pinterest)

Sayangnya, aku sedang bersama orang lain. 

Rasanya dadaku berdebar tak karuan. Ada apa ini? Kenapa jadi begini? Satu hal yang menjadi tanda tanya besar, kenapa kami bisa bertemu di tempat yang TAK pernah terpikirkan olehku. Seingatku, semalam aku tidak berdo'a agar dia muncul di tempat ini. Di perjalanan pulang, aku masih bisa mengingat raut wajahnya. Apakah dia akan penasaran kenapa aku bisa bersama dengan laki-laki yang tidak lain adalah... teman sekelasnya sendiri?

Tunggu! Aku tak memiliki hubungan apapun dengan laki-laki itu. Serius. Kami telah berteman sedari  kecil. Tolong, jangan salah paham. Ah, kenapa aku merasa perlu mengklarifikasi? Dia tak akan peduli. Dia tak mungkin ingat wajahku.


to be continued...

Komentar

Postingan Populer