And Human
Aku telah belajar bahwa tidak semua manusia di bumi ini peduli dengan hidup kita, bahkan saudara atau keluarga sendiri pun tidak semua meyanyangi dan ikut bahagia melihat kita bahagia.
Pahitnya, hanya ada sedikit orang yang benar-benar peduli, kebanyakan hanya penasaran saja.
Aku harap kalian sudah bersama orang-orang tulus dan bisa menjaganya dengan baik ya!
Aku pernah mengalami suatu masa dimana orang-orang begitu 'kepo' dan 'sok tau' terhadap kehidupanku. Awalnya mereka terlihat peduli, tapi dibalik sikap manisnya itu mereka merasa layak untuk menghakimi dan menentukan hidupku harus A atau B sesuai standar mereka. Aku harap orang-orang toxic seperti itu tidak muncul lagi di hidupku. Walaupun aku paham betul bahwa setiap kita melewati satu fase bersama orang toxic A, akan ada fase baru bertemu dengan orang toxic B.
Begitulah hidup.
Semoga ujian ini bisa berbuah pahala, aamiin.
Jika kita berbicara soal ke 'kepoan' seseorang, mereka akan terus mengusik dan mencari tahu semua tentangmu. Entah dari berbagai sudut mana pun. Parahnya, sampai ada yang mencari lemah dan kuatmu, menghafal setiap ekspresi wajahmu, dan memperhatikan bagaimana gerak-gerikmu.
Semua itu dapat dengan mudah mereka temukan, salah satunya melalui sosial mediamu. Hati-hati ya guys!
Pada tahun 2008-2016 aku pernah menjadi sosok yang ceroboh karena oversharing di sosial media dan di kehidupan nyataku.
Aku merasa semua teman-teman, saudara, dan keluargaku adalah orang-orang yang normal dan baik.
Aku pikir mereka bisa mendengarku, karena aku pun mendengarkan mereka.
Aku pikir mereka benar-benar ingin membantu setiap masalahku, karena aku pun selalu ada untuk mereka.
Aku pikir mereka bahagia di saat aku bahagia, dan ikut sedih di saat aku merasa sedih.
Namun, aku salah.
Mereka hanya ingin tahu.
Mereka hanya mencari topik tentangku untuk dibahas di forum lain.
Mereka hanya menyalahkan setiap tindakanku.
Mereka hanya iri dengan kebahagiaanku.
Mereka hanya mencari celah kelemahanku untuk membuatku jatuh.
Aku dapat mengambil pelajaran dari kecerobohanku itu. Pelajaran itu dapat diwakili oleh sebuah quote, yaitu:
"Talk less, Smile more"
Kini aku menjadi pribadi yang cukup tertutup demi menjaga kedamaian dan ketenangan diri. Aku merasa orang lain tidak perlu mengetahui tentang hidupku terlalu dalam karena mereka tidak memiliki kontribusi apapun (kecuali orang-orang yang tulus mendukung dan mendo'akanku, terima kasih banyak ya!)
Hal terbaik yang bisa aku lakukan sekarang adalah melakukan pekerjaanku dengan profesional dan menjalani hidup sebagai makhluk sosial sebaik-baiknya.
Perlu diingat, aku masih sangat suka mengobrol baik dengan orang lain, tentunya aku sangat bersemangat dalam berbagi ilmu dan membicarakan hal-hal menarik lainnya, tapi sekali lagi itu bukan tentang hidupku.
Biarlah yang mengetahui segala tentang hidupku hanya aku dan beberapa orang yang aku izinkan untuk mengaksesnya. Tidak perlu PUBLIK mengetahui setiap momen dalam hidupku.
Baik itu momen bahagiaku, maupun momen sedihku tidak terlalu penting untuk aku sebarluaskan.
Jikalau tanpa sengaja ada orang lain yang mengetahuinya, itu di luar kuasaku. Seberapa rapat aku menutup akses mengenai kehidupan pribadiku, ada kalanya aku lengah. Tak dipungkiri, mungkin masih ada orang-orang di masa lalu yang masih membicarakan tentangku. Aku harap mereka dapat menyimpannya sendiri atau memberikan do'a terbaiknya.
Setelah benar-benar membatasi diri baik di sosial media maupun di dunia nyata, aku merasa lebih tenang dalam menjalani hidup. Aku sendiri tidak peduli atas apa yang direncanakan dan dilakukan orang lain, aku hanya ingin fokus pada kehidupanku sendiri.
Berkaca pada diri sendiri, rasanya aku merasa tidak pantas memberikan komentar atas kehidupan orang lain karena aku sendiri tidak bersamanya setiap waktu. Aku tidak dapat membuat statement bahwa si A itu salah atau benar. Aku pun sama sekali tidak tau alasan yang pasti mengapa si A memilih jalan ini, bukan itu. Tidak ada yang bisa menyelami seberapa dalam hati manusia, bukan?
Pesanku untuk yang saat ini masih 'kepo' terhadap hidup orang lain dan menjadi 'si paling tau' dan 'si paling benar', tolonglah kalian urusi hidup kalian sendiri. Apakah kalian tidak punya kesibukan lain? Seluang itukah waktu kalian untuk mengomentari hidup orang lain?
Lebih baik diam saja jika tindakan atau komentarmu itu hanya menyakiti orang lain.
Jika punya nasihat berlandaskan rasa cinta terhadap sesama makhluk Allah, maka sampaikan dengan baik tanpa ada rasa menghakimi. Akan lebih baik jika kita semua ini saling mendo'akan dan lebih banyak mendengarkan agar lebih mudah memahami sesama.
Komentar
Posting Komentar